BERPACU DI GELANGGANG KEHIDUPAN
Terlahir, menjalani kehidupan, dan berpulang Itulah fase kehidupan di dunia yang dimiliki seorang insan. Berangkat dari lahirnya sebuah insan, pasti ada sebuah maksud yang tak tampak mengapa seorang insan tersebut dilahirkan, dan untuk apa ia ada di dunia.
Mencari Tujuan Hidup
Dr H Hamdani Muin M.Ag (Alm), mantan ketua Mahasiswa Ahli Thariqah An-Nahdliyyah (Matan) Indonesia mengemukakan manusia jelas-jelas adalah abdullah, hamba Allah. Meski demikian tidak sedikit manusia yang tidak sadar kalau dirinya adalah manusia. Pada titik itu sambung Dr H Hamdani Muin M.Ag (Alm) tugas manusia sebagai biabdhi, makhluk yang beribadah kepada sang khaliq. Karena itu, manusia perlu tahu hak dan kewajibannya.
مَنْ عَرَفَ نَفْسَهُ فَقَدْ عَرَفَ رَبَّه
Artinya, “Barang siapa yang mengenal dirinya, sungguh ia telah mengenal Tuhannya.”
Sementara itu tujuan hidup jelas mantan Sekjen Jamiyyah Ahli Thariqah Al-Mu’tabarah An-Nahdliyyah (Jatman) Indonesia KH. Muhammad Masroni (Alm) seraya mengutip surat al-ashr ada empat; beriman, berbuat baik, menegakkan kebenaran dan penuh kesabaran. Keempat hal itu terang kiai Masroni hendaknya dijalankan semuanya agar tidak menjadi manusia yang merugi. Menurutnya, manusia dalam hidupnya mesti dipenuhi dengan rintangan.
Fastabiqul Khairat
Jika kita melihat sebagian orang begitu menggebu mengejar cita-cita dunia, maka seharusnya seorang muslim jauh lebih bersemangat dalam mengerjakan kebaikan (fastabiqul khairat). Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
ُمَنْ عَرَفَ نَفْسَهُ فَقَدْ عَرَفَ رَبَّه
“Bersemangatlah dalam menggapai hal yang bermanfaat untukmu.” (HR. Muslim no. 2664)
Indikasi ia bersemangat adalah tidak menunda-nunda dalam melakukan kebaikan. Allah ‘azza wajalla berfirman,
وَلِكُلٍّ وِجْهَةٌ هُوَ مُوَلِّيهَا ۖ فَاسْتَبِقُوا الْخَيْرَاتِ ۚ أَيْنَ مَا تَكُونُوا يَأْتِ بِكُمُ اللَّهُ جَمِيعًا ۚ إِنَّ اللَّهَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ
“Dan bagi tiap-tiap umat ada kiblatnya (sendiri) yang ia menghadap kepadanya. Maka, berlomba-lombalah (dalam membuat) kebaikan. Di mana saja kamu berada, pasti Allah akan mengumpulkan kamu sekalian (pada hari kiamat). Sesungguhnya Allah Mahakuasa atas segala sesuatu.” (QS. Al-Baqarah: 148)
Menciptakan Keindahan
Di era berkembangnya zaman yang semakin cepat, banyak dari kita sering terdistraksi dengan arus zaman yang semakin deras. Banyak dari kita sering terlibat dalam perlombaan yang belum tentu ada unsur kebaikan didalamnya. Saling beradu pencapaian, saling merasa unggul satu sama lain, dsb sudah menjadi realitas yang tercipta di banyak hal dan banyak tempat. Padahal jika kita memiliki arah tujuan hidup yang jelas dan memegang prinsip fastabiqul khairat, maka bukan tidak mungkin kita akan bisa lebih menghasilkan hidup yang lebih bermakna.
Dalam mengarungi perjalanan kehidupan, kebaikan saja belum cukup jikalau belum ada landasan kebenaran. Kebenaran menjadi sebuah landasan awal, setelahnya aspek kebaikan yang harus dipertimbangkan. Jika suatu hal dianggap benar lalu apakah suatu hal yang dianggap benar tersebut juga baik?
Seperti yang pernah diungkapkan oleh Emha Ainun Nadjib atau Cak Nun dalam sapaanya, mengungkapkan bahwa kebaikan itu harus dilandasi kebenaran. Dalam artian sebaliknya, sesuatu hal harus dilandasi kebenaran lalu dilandasi lagi dengan kebaikan. Dan jika dua hal tersebut sudah berjalan maka akan menghasilkan sebuah keindahan.
Reference:
https://muslim.or.id/78781-bersegera-dan-berlomba-dalam-kebaikan.html
https://www.nu.or.id/daerah/manusia-perlu-tahu-tujuan-hidupnya-B5KkP
Penulis : Taufiqqurohman

Comments
Post a Comment